Tampilkan postingan dengan label #JarethWijaya. Tampilkan semua postingan

Alam Masa Lalu

No Comments »



Kecerobohanku yakni membuka gerbang masa lalu, hingga terjebak didalamnya. Bercampur menjadi satu menggeliat mesra dengan segala isinya.
Kesalahanku yang terlalu lama tinggal dalam gubuk masa lalu, sibuk mencari sebuah pengharapan hingga aku tekurung dan lupa bagaimana cara membuka pintu untuk meninggalkan gubuk ini. Pengharapan itu ternyata kosong.

Pernah suatu hari keberuntungan datang membantuku keluar dari gubuk. Namun pada akhirnya aku kembali lagi ke sini. Terkapar dan terdiam di teras gubuk seperti yatim piatu yang kehilangan pengasuh.

***



Keberuntungan itu berkata,”maaf, aku hanya bisa mengeluarkanmu dari sini. Setelahnya, carilah jalanmu sendiri”

Lantas dengan keadaanku yang amnesia, aku berjalan dengan linglung. Menyusuri hutan pinus yang berdiri tegap menusuk langit senja degan pongah. Tatapannya yang sinis seakan merendahkanku, mereka pikir aku terlalu lemah untuk menyelamatkan diri. Bulan tak bisa berbuat apa-apa melihatku tersudut. Acuh, memalingkan wajahnya seakan tidak tahu apa yang terjadi.

Aku kalah jumlah, pun kalah ukuran. Semakin aku berlari, semakin menggema tawa mereka yang tiada habisnya. Memekakan telinga, menghantamku hingga terlempar jauh ke tengah sungai.
Angin yang kebetulan lewat memandangiku dan menyanyikan lagu kematian. Mengelilingi tubuhku hingga aku menggigil. Ya, semuanya sama. Brengsek.

Kuhempaskan Jaketku yang basah ke sungai. Kulemparkan sepatuku yang berat dengan air tepat ke dahi pohon pinus. Mereka terkejut dan marah. Belum sempat mereka membalasku, Matahari datang tanpa sapaan hangatnya. Membuat hutan pinus takut dan bungkam, bersama angin. Dan aku Menang dibawah ketiak sinar matahari.

Setelahnya aku kembali ke gubuk. Menjatuhkan tubuh yang lunglai dibawah jendela teras. Aku Menunggu keberuntungan kembali datang dengan membawa temannya agar aku benar-benar bisa keluar dari sini. Atau menunggu aku kembali lupa untuk "ingin-pergi-dari-sini".


Masih terpenjara dalam wilayah,
-Jareth Wijaya-

Ternyata Kelana...

No Comments »

Aku hanya bisa menangis sekencang-kencangnya memecah hujan yang deras di malam rabu. Tidak peduli hawa dinginnya air yang jatuh menyirami bumi yang memanas. Hati yang panas tepatnya.
Langkahku terhenti di sebuah tiang listrik persis di sebelah halte,  menatap langit dan menantang petir untuk menyambarku agar aku bisa keluar dari mimpi buruk. 

Ya...Disitulah aku meluapkan emosi yang sangat membara, Mengeluarkan segala isi paru-paruku sekuat tenaga. Dada ini tetap merasa sesak. Hati tetap pedih. Air mata pun tak kunjung habis.

Kelana yang selama ini sangat aku cintai. Sangat teramat kucintai, walaupun dia sama sekali tidak mencintaiku. Dan walaupun aku tahu dia tidak mencintaiku, dengan idiotnya aku tetap mengejar dia. Bahkan hampir saja mengemis cintanya.

Dia yang selalu dingin, acuh, dan tidak menganggap keberadaanku justru selalu membuatku penasaran dan menjadikan itu sebuah tantangan bodoh untuk mendapatkan dia. Baiklah...memang benar, aku menuruti kata hatiku yang salah selama ini. Menerjemahkan sebuah penolakan halus sebagai penyambutan. Membuatku yang tersandung menjadi makin terjerembab dalam sebuah lubang yang besar.

Jika Kelana bercumbu dengan wanita lain, tentu saja aku terluka. Namun melihat Kelana berciuman dengan seorang pria, aku ingin mati saja.

***

Apa yang Masih Kurang dari aku ?

No Comments »


Apa aku kurang cantik ?
Baiklah aku bisa merombak wajahku seperti supermodel dan selebritis.

Apa aku kurang pandai ?
Aku bisa belajar untuk menjadi pandai melebihi professor.

Apa aku kurang baik ?
Aku juga bisa belajar menjadi orang yang lebih baik untukmu.

Apa aku kurang religius ?
Oke beri aku waktu untuk memperdalam agamaku.

Apa aku kurang dewasa ?
Dari kamu aku akan belajar untuk menjadi wanita yang dewasa.

Lantas, apa lagi yang kurang dari aku?
"Reth, kamu terlalu sempurna untukku", Ujar Kelana.

Kelana yang Berhenti Berkelana...

Baca selengkapnya » | No Comments »



Percikan ombak yang mengenai wajahku, dinginnya angin malam yang meniup rambutku dan asap rokok yang keluar dari mulutku yang perlahan menghilang. Aku hanya bisa duduk terdiam disini. Pikiranku kosong,dan  jiwaku lega.
Tiba-tiba aku teringat peristiwa yang sudah aku alami.
***
Kelana Atmodjati, seorang laki-laki yang sampai sekarang aku tidak paham isi hatinya. Yang jelas aku pernah jatuh cinta padanya. Sayangnya, aku tidak pernah tau apakah dia mencintaiku atau tidak. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

Blogroll

Protected by Copyscape Web Copyright Protection Software

Popular Posts

Search This Blog