Saya Tidak Bangga Menjadi Egois

Aku akui, aku memiliki egoisme yang cukup tinggi. Aku selalu memaksakan kehendak. Dan aku selalu harus dan mewajibkan diri untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan.
Karena sebagian besar keinginanku terpenuhi, egoisku semakin brutal.
Perasaan itu tidak dapat dipaksakan. Ya, sering ada yang berbicara seperti itu. Namun aku yang sebelumnya lebih egois dari sekarang, menutup telinga untuk mendengarnya.
Dari Kelana, aku belajar tentang arti sebuah rasa menghargai dan memahami perasaan manusia.
Dia yang membantuku membuka mata sedikit demi sedikit, Dia selalu saja memberiku nasehat berupa penindasan, memberiku pemahaman berupa penyiksaan, memberiku petunjuk berupa penolakan, dan memberiku pelajaran berupa keacuhannya.

Kelana memang luar biasa, karena dia, aku mampu menertawakan diriku sendiri seraya berkata "Rasakan! Sekarang kamu tahu kan rasanya!!"
Walaupun di satu sisi aku cukup menderita dan sakit hati atas apa yang dilakukan Kelana padaku, dia telah menyelipkan hal berharga dalam jiwaku.
Walaupun aku pernah berpikir bahwa "Dunia ini tidak adil!" tatapannya seakan menjawab "Dunia ini cukup adil selama ini menghadapi keegoisanmu"

Dari berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar atau bahkan tidak terhingga suatu keinginan, ada beberapa yang tidak akan terwujud. Selalu ada sesuatu yang dikehendaki namun tidak tercapai.
Itu lumrah, mungkin Tuhan tidak ingin kita terlalu banyak menghabiskan kebahagiaan di dunia ini. Tuhan ingin menyisakan sebagian kebahagiaan kita untuk dinikmati di surga, Atau jika tidak sependapat dengan pernyataan tadi, anggap saja demikian. Jika masih tidak terima dengan pernyataan itu, anggap aku tidak pernah mengatakannya.

Kelana makhluk ciptaan Tuhan yang sengaja diturunkan untuk lahir dari rahim seorang ibu yang mungkin saja biasa. Luar biasanya, dia ditakdirkan oleh Tuhan untuk mengajariku dan mengubahku untuk menjadi lebih baik.Dia juga yang telah membuatku untuk lebih dewasa menyikapi masalah, menerima penolakan.

Dulu saat disekolah, aku cepat menangkap pelajaran yang diajari oleh guru yang killer. Sebaliknya, aku sulit untuk mengerti pelajaran yang diajarkan oleh guru yang baik. Hati dan otakku mungkin membeku sejak sekian lama. Dan aku tidak bisa dididik melalui kebaikan. Aku terdidik dari sebuah kejahatan.

Kejahatan lebih cepat menyadarkanku untuk berlaku sebagaimana mestinya.

Terima Kasih Tuhan, telah menciptakan Kelana..




This entry was posted on Kamis, 03 Januari 2013. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

Blogroll

Protected by Copyscape Web Copyright Protection Software

Popular Posts

Search This Blog