Ia cukup setia berdiri disampingku. Menemaniku meski tak
pernah kuminta. Selalu ada meski tidak benar-benar kubutuhkan. Tak pernah absen ketika aku benar-benar sendiri. Saat ini ia yang
paling aku cintai. Aku yang sering berselisih paham dengan selingkuhanku yaitu
dimensi, tapi pada akhirnya ia yang memberikan sari waktu sebagai humus penuh
nutrisi untuk menyuburkan lagi hati yang tandus dan kering karena perbuatan dimensi.
Hati yang sekarat berangsur pulih karenanya. Bagiku Ia
lebih dari obat. Dimensi hanya sampah penuh limbah kimia yang meracuni hati.
Aku tidak ingin menyentuhnya lagi. Tidak akan.
Aku ingin bermesraan dengan waktuku sebagai imbalan.
Bisakah kalian semua pergi? Aku ingin sendiri, menunggu waktu.
Kebaikan kalian yang dibuat-buat. Rasa sayang yang hanya
sekedar pura-pura, Perhatian yang berujung “pemanfaatan
demi bisnis”, Ketulusan yang sebenarnya terpaksa, Keingintahuan yang
mencari sela kekurangan, Rasa iba yang menyimpan gelak tawa dan motivasi yang
mendoktrin untuk pesimis, dan pengamatan yang berujung perbandingan, sebaiknya kalian simpan dulu dan berikan padaku ketika
aku sudah puas bercengkrama dengan waktuku.
Jangan sedih. Semua akan berjalan
seperti biasa, beberapa hari kedepan. Sampai aku puas. Bisakah kalian pergi sekarang juga ?
Tidak Ingin Diganggu,
Pohon Singkong
