Makan Teman

Ketika aku menjalani pendidikan Taman Kanak-Kanak, guruku pernah bilang, "mengambil barang milik orang lain itu adalah perbuatan tidak terpuji"
Jika saat itu ada teman sekelasku mengambil sesuatu yang menjadi milikku, aku pasti akan mengadukannya pada guruku agar ia dimarahi lalu dihukum. Akupun tersenyum puas atas kemenanganku.

***


3 Tahun yang lalu, dan kamu mengulanginya (lagi) sekarang. Memiliki kebahagiaan hasil dari merampas milik orang lain. Paling tidak, yang pertama aku sudah memaafkanmu. Yang kedua ini, aku masih memaafkanmu :)
Kamu tidak 100% salah, temanku. Dia juga salah. Bahkan lebih bersalah dari kamu. Dia juga tidak terlalu bersalah. Karena aku juga salah. Kita semua salah, termasuk semesta.

Tapi aku jadi membenci dia, yang menjadi "milikku" pada awalnya. "Milikku" itu lebih memilih jatuh dalam pelukanmu ketimbang duduk bersamaku diatas pasir pantai, memandang sunset. Membicarakan pandangan hidup masing-masing diwarnai canda tawa dan cubitan kecil.

Hmm...Kamu memang menawan, temanku. Sangat menawan. Kau tutupi keterbukaanmu dengan akhlak yang baik. Sebenarnya sedikit munafik tapi aku memakluminya. Manusia tidak ada yang sempurna, bukan?
Sosokmu yang charming membuat setiap orang merindukanmu ketika kamu menghilang. Gurat wajahmu indah membuat "milikku" itu teralihkan perhatiannya.
Kamu manis, semanis ratu lebah yang dengan sigap bisa menyengat siapapun yang kau mau, termasuk "milikku".
Ah, salah. Ratu lebah tidak manis. Madunya lah yang manis. Namun tanpa ratu lebah mungkin tidak akan tercipta madu yang manis. Berarti kamu lebih dari manis. Entahlah apa namanya...

Sempat terpikir olehku, mengapa manusia seindah kamu masih saja mengincar apa yang menjadi  "milikku",  milik seorang manusia jelata yang hanya memiliki hal-hal sederhana sepertiku.

Seketika Tuhan menghentikan pemikiranku ini. Ia membisikkan beberapa kalimat melalui angin yang berhembus, menyerbu wajahku menuju kedua telingaku. Sebagian meresap dalam kulitku, dan sebagian pergi melewati helai rambutku.
Kudengar, Bahwa sebenarnya aku tidak begitu memerlukan "milikku" itu. Kamulah yang justru membutuhkannya, temanku. Tuhan sempat merayuku agar aku mau memberikan "milikku" kepadamu dengan ikhlas. Awalnya aku tidak rela untuk memberikannya. Namun Tuhan mengimi-imingiku dengan tawaran yang lebih menarik. Hal yang lebih sederhana :)

Aku tidak menyukai hal rumit. Karena yang sederhana sekalipun sulit untuk kumiliki, bagaimana dengan yang rumit? Karena itulah aku sepakat dengan Tuhan. Mengganti "milikku" yang sederhana dengan hal yang lebih sederhana lagi. Jodoh.
Jika nanti kamu masih tertarik untuk kembali merampas hal yang lebih sederhana ini dariku, mungkin aku teramat salah dan tidak menyadari bahwa selama ini yang aku miliki adalah hal-hal rumit. Sangat rumit melebihi kepunyaanmu.
Kalau begitu, aku juga telah salah menerjemahkan arti sebuah kesederhanaan dari Tuhan.

Ohh Tuhan, kau sukses mengerjaiku untuk kesekian kalinya. Arrghh....Jangan tertawai aku lagi :'(
"Baiklah, sebelum aku memiliki sesuatu, aku akan belajar untuk mengartikan kesederhanaan-Mu terlebih dahulu."


Tepok Jidat,

Si Bodoh yang sulit Pintar











This entry was posted on Kamis, 14 Februari 2013 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

Blogroll

Protected by Copyscape Web Copyright Protection Software

Popular Posts

Search This Blog