Dua kali aku terburu-buru naik keatas loteng mengambil
jemuran setengah kering, Berlomba dengan tetesan air yang turun dari langit. Disisipi
oleh gerutu dan umpatan terhadap langit dari mulutku. “Bajingan! Kenapa hujan turun tanpa gerimis! Kamu pikir aku senang
dipermainkan seperti ini, Ha!”
Aku menyesal setelahnya karena secara tidak langsung aku
menyindir Tuhan. Aku tidak berhak mengatur Tuhan. Memangnya aku ini siapa?
Dari atas sini secara tidak sengaja kulihat wajah yang
familiar.
“Wajahmu sudah
teduh, lalu untuk apa kamu berteduh?” Gumamku
Tunggu Dulu! Di sebelahnya ada seorang perempuan
manis,Bibirnya merah, Rambutnya coklat seperti batang pohon pinus, Hidung
mancung dan bermata belo. Keduanya mengenakan seragam sekolah yang sama.
Seragam mereka sama dengan seragam sekolahku. Artinya
kami satu sekolah.
Ah, aku baru sadar bahwa itu kamu dan dia.
Kamu yang awalnya menyukaiku tapi mencari pelampiasan
lain karena nafsumu tak tersampaikan, dan dialah wanita kurang beruntung itu.
Hmm…kupikir kamu bisa melupakan aku karena ada dia. Nyatanya kamu masih sama,
mengharapkan orang yang salah
Aku pandai menjalani hubungan tanpa perasaan dengan
orang-orang yang kurang bersyukur sepertimu. Karena itu jauh lebih mudah dari apapun. Aku
memegang kendali, aku punya kuasa untuk menghentikan permainan sesuai
keinginanku. Tidak peduli itu akan berakhir tragis,mengenaskan atau
membahagiakanmu. Kamu sama seperti mereka yang bodoh. Mengorbankan kebutuhan demi keinginan tanpa manfaat.
Lantas, Kamu ingin mengundangku untuk menghancurkan
hubunganmu ini ? Tanyakan dulu pada hati kecilmu. Apa kamu benar-benar ingin.
Jika yakin, No Handphone ku masih aktif. Atau kamu bisa menyebrangi jalan ini
dari tempatmu berteduh. Atau perlu aku yang mejemputmu dengan payung warna pink
ku?
Semua akan kupenuhi untukmu. Tapi maaf, peliharaanmu itu
jangan ikut.Biarkan ia menangis dengan hujan, sebagai awal bencana.
*senyum setan*
