Mahkluk itu menyukai papa, makhluk itu menyatu dengan
papa.
Papa yang dulunya brengsek, kini berubah menjadi lebih
brengsek.
Di dunia luar sana, semua berkata “laki-laki yang memukul
perempuan itu banci”
Ah…omong kosong. Papaku bukan banci. Papaku juga tidak
menyimpang seperti Kelana. Dia laki-laki. Tetapi mengapa tangannya sangat
ringan untuk menyakiti mama ? Dia lebih mendengar hasutan setan-setan keparat
itu daripada nasihat kami, keluarga kecilnya sendiri.
***
Saat aku berumur 2 tahun, pertama kalinya aku merasakan
sebuah tamparan sedap yang mendarat di pipiku karena berusaha melerai
peperangan. Aku yang tidak tahu apa-apa saat itu, yang kutahu aku tidak ingin
melihat mama menangis. Pada akhirnya dipaksa ikut dalam adegan memuakkan.
Mulai saat itu aku tidak lagi memiliki keberanian untuk
membela siapapun. Sampai saat ini.
Aku, Jareth si Pecundang. Pengecut. Dan tidak ingin
merasakan sakit.
Mulai aku tidak tahu apa-apa sampai aku tahu segalanya,
Papa belum berubah. Justru semakin parah. Aku ingin sekali keluarga ini
terbelah dan hancur agar drama ini selesai. Agar setan-setan itu puas.
Adikku, Jonathan juga sangat takut setiap kali tontonan
gratis itu muncul. Ia biasanya lari kekamarku dengan membawa gulungan tisu
toilet dan memeluk guling. Beberapa saat kemudian akan terdengar isak tangis
dan ingus.
“Kamu kenapa, Jonath?”
“Jonath engga tega kak, lihat mama bertengkar terus sama
papa”
Aku hanya bisa diam dan tersenyum masam. Ah, Sudah biasa…
Aku terbiasa mendengar umpatan dan kalimat kasar yang
keluar dari mulut papa…
Aku terbiasa mendengar suara barang pecah belah yang
sengaja dilemparkan…
Aku terbiasa mendengar suara jeritan mama yang memekakkan
telinga kala melawan papa…
Aku terbiasa menahan malu ketika tetangga sebelah rumah
mengetahui ada pertengkaran ini…
Persoalan yang sangat sepele, dibumbui provokasi oleh
beberapa unsur, menyulut perang hebat hingga pada ahirnya keduanya tidak saling
sapa untuk beberapa minggu.
