Surat Ketujuh – Lomba saling meninggalkan



Satu per satu, secara perlahan, rasanya itu cara terbaik. Yah..aku banyak belajar dari kamu, Darl. Aku ingin menghilang dari beberapa duniaku. Dunia lama telah terkontaminasi oleh tragedi yang memuakkan.  Seperti Boneka Teddy Bear yang masuk ke kubangan lumpur. Yang awalnya lucu dan menggemaskan, pada akhirnya tidak menarik lagi. Sang pemilik Teddy Bear rasanya lebih memilih untuk membeli Teddy Bear baru. Jarang sekali ada yang memiliki pemikiran untuk mencucinya. Yang kotor, biarlah kotor. Toh ada yang bersih…

Dunia rasanya benci banget sama aku. Semua sisi bersatu membuat rencana penyerangan. Kayaknya aku diciptakan memang untuk hidup mengendap-ngendap seperti pencuri. Bersembunyi dalam kegelapan, Ketika sesekali mencoba keluar semuanya menatapku dengan sorotan tajam dan menusuk. Boro-boro kebebasan, ketenangan saja sepertinya tidak pernah disuguhkan Tuhan padaku.

Apa kamu pernah berada di posisiku seperti ini? Kurasa pernah, ya. Waktu itu :) walaupun tidak 100% sama persis denganku. Lalu, bagaimana kamu menjalaninya? Aku sedikit tahu darl, kamu selalu tenang saat menghadapi masalah. Tidak seperti aku yang selalu panik dan menyikapinya dengan emosi yang meledak-ledak. Aku ingin tahu, selama ini kamu lari kemana ketika berbagai persoalan menyerangmu. Aku sering lari, bukan berarti aku takut dan lari dari kenyataan. Hanya saja, aku tidak ingin ambil pusing dan menghabiskan tenaga untuk menghadapinya. Percuma…

Begitu banyak makhluk keras kepala yang sulit untuk kubuka jalan pikirannya. Contohnya kamu, hahaha. Semakin lama manusia semakin aneh dan tidak masuk akal. Aku juga merasa telah menjadi aneh karenanya.
Sudah berkali-kali aku mencari pelarian dan teman untuk berlari. Namun aku selalu tertangkap.
Bisakah kamu memberitahuku dimana tempat yang aman untuk berlari dan bersembunyi ? 

Eh, darl. Ngomong-ngomong sudah lama kita tidak punya hiburan nih. Aku ada ide, gimana kalo kita lomba? :D
Lomba saling meninggalkan. Siapa yang lebih dulu meninggalkan, siapa yang langkah kakinya lebih jauh, dia yang akan menjadi pemenangnya.

*Dan sebagai hadiahnya, Sang pemenang akan dilupakan dan dihapus dari memori si pecundang yang kalah. Pemenang tidak perlu repot-repot melupakan lagi, karena ia lah yang akan terlupakan dengan mudah. Intinya, serahkan semua beban kepada yang kalah ;)
Bagaimana, Tertarik ?



Sang penantang dalam sebuah lubang kecil,
Pohon Singkong

This entry was posted on Minggu, 03 Februari 2013 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

Blogroll

Protected by Copyscape Web Copyright Protection Software

Popular Posts

Search This Blog